TAHUN 2006
Sekar Telkom Dengan Wanadri Salurkan Kebutuhan Korban Gempa Saat Ini
Penerimaan dan penyaluran bantuan untuk korban bencana gempa bumi 5,9 SR di DIY & Jateng yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006, hingga saat ini masih terus berlanjut di Posko Utama TELKOM PEDULI Kandatel Yogyakarta. Bantuan dari Telkom & Sekar seluruh tanah air, termasuk dari pihak-pihak lain/perorangan masih berdatangan walaupun volumenya sudah mulai berkurang, bantuan tersebut langsung di distribusikan ke lokasi korban oleh para relawan yang dikoordinir Sekar Telkom.
Pada hari Kamis tanggal 8 Juni 2006 lalu, Ketua Sekar DPW-4 Syahrul Akhyar bersama Ketua Sekar DPD Yogyakarta M. Shoffi, mengunjungi Posko WANADRI di jalan R.A. Kartini No.36 Kabupaten Bantul. Pada Posko tersebut bergabung kelompok-kelompok mahasiswa pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, diantaranya dari ITB, UI, Unpar Bandung dll, mereka melakukan kegiatan kemanusiaan yang dikoordinir oleh WANADRI dalam rangka kepedulian mereka atas musibah gempa yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya. Relawan-relawan mahasiswa tersebut melakukan kegiatan diantaranya; menerima, mengadministrasi kan dan menyalurkan bantuan ke lokasi lokasi korban yang sebelumnya sudah disurvey terlebih dahulu, termasuk didalamnya bantuan medis lengkap dengan dokter relawannya. Bantuan yang mereka terima, diperoleh dari berbagai pihak terutama dari PMI, Telkom dan Departemen Kesehatan.
Dalam perbincangan antara Ketua Sekar DPW-4 dengan koordinator Wanadri, bahwa Sekar Telkom pun siap mengirimkan bantuan logistik ke Posko Wanadri, untuk kemudian disalurkan ke lokasi lokasi korban bencana gempa yang membutuhkan. Dari hasil survey lokasi yang sudah dilakukan oleh team Wanadri, ternyata kebutuhan korban bencana gempa, saat ini sudah berubah, yang mereka butuhkan saat ini diantaranya; kompor minyak, minyak tanah, minyak goreng, thermos air, pacul, sekop, jerigen, ember plastik, buku tulis dll. Akhir perbincangan antara Ketua Sekar DPW-4 dengan koordinator Wanadri, diperoleh kesepakatan bahwa Sekar Telkom siap mengirimkan bantuan logistik ke Posko Wanadri. Pada hari Jum’at tanggal 9 Juni 2006, team relawan Sekar Telkom belanja kebutuhan barang-barang sesuai list/item-item yang diperlukan korban gempa tersebut, sejumlah Rp. 10.340.000,-
Kemudian list barang-barang tersebut dicatat / di administrasikan oleh petugas Posko TELKOM PEDULI, dan pada hari berikutnya Sabtu tanggal 10 Juni 2006 bantuan logistik tersebut dikirim ke Posko Wanadri oleh team relawan Sekar Telkom.
Setelah selesai dilaksanakan penghitungan barang-barang/bantuan logistik oleh team Wanadri dan Sekar Telkom di gudang Posko Wanadri, kemudian ditandatangani berita acara serah terima barang oleh kedua belah pihak yaitu Sekar Telkom dan Wanadri, dan dilanjutkan penyerahan bantuan secara simbolis dari pihak Sekar Telkom oleh Bambang Rahardjo kepada Wahyudi sebagai koordinator Wanadri yang lebih dikenal dengan panggilan pak Kacus.
Melalui Posko TELKOM PEDULI, berbagai upaya terus dilakukan oleh Sekar Telkom, baik terhadap anggota Sekar yang terkena musibah gempa (termasuk lingkungan sekitarnya), maupun kepada masyarakat umum sebagai korban gempa, terutama ke lokasi korban yang berada di daerah-daerah terpencil (daerah perbukitan), yang saat ini mereka masih sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan donatur/dermawan, dimana saat ini mereka berteduh dan tidur dibawah tenda-tenda dengan alas seadanya. (harlan-yk-120606).
Mengenai Saya
- NURSIDIK_GIPO
- SIDOARJO, JAWA TIMUR, Indonesia
- Belajar Menjadi "Internal Jurnalism"
Tampilkan postingan dengan label SEKAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEKAR. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 Oktober 2010
Pandji Darmawan, Ketua Tim Perunding Paling Cool Dan Stabil
TAHUN 2006
Pandji Darmawan, Ketua Tim Perunding Paling Cool Dan Stabil
Sepanjang berlangsungnya perundingan PKB III selama 2 minggu di Hotel Papandayan-Bandung, Reporter selalu mengamati wajah-wajah tim perunding, baik dari SEKAR TELKOM, maupun dari Manajemen. Ternyata Ketua Tim Perunding dari Manajemen, yaitu Pandji Darmawan-lah yang paling cool dan relative stabil dibanding yang lain, meski harus menghadapi “sengatan” gencar dari sana-sini.
Mungkin karena sering berkecimpung di dunia psikologi, membuatnya selalu segar dan tegar. Memang sih, terkadang tampak sedikit tegang, tetapi jika dibanding dengan tim perunding yang lain, Pandji tergolong paling mampu menguasai keadaan dan mengendalikan diri. Memang, hal yang paling sulit kita lakukan adalah mengalahkan musuh terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.
Jika kita sudah dapat mengalahkan dan mengendalikan diri kita sendiri, berarti kita sudah mencapai tahap kecerdasan spiritual yang tinggi. Mengalahkan dan mengendalikan diri sendiri bukanlah sebuah peristiwa, tetapi sebuah kebiasaan dan kedisiplinan yang harus kita lakukan setiap hari. Tak nampak lelah, tak nampak ngantuk, walau sebenarnya lelah dan ngantuk.
Seseorang disebut ”kuat” ketika dia sudah menemukan cara untuk mengalahkan dan mengendalikan dirinya. Inilah hal yang kita sadari sangat kurang dalam diri kita. Mengalahkan dan mengendalikan diri, menunjukkan kebesaran karakter seseorang. Salah satu komponen yang penting dalam memperkaya kehidupan spiritual kita adalah pengendalian diri, yaitu mengalahkan musuh terbesar, diri kita sendiri.
Penampilan diri dan wajah memang menyimpan khasanah rahasia, jadi kitapun tak tahu dibalik semua itu. Hanya yang jelas Ketua Tim Perunding Manajemen yang satu ini memang tampak tegar. Mulai pagi hingga sore, bahkan saat perundingan sampai malam hari, memang selalu siap dan “On Time”. Mengetuk palupun tak jarang sambil tersenyum. Kemudian saat break, maka kesempatan merokokpun dimanfaatkan, dan memang ternyata perokok berat, luaar biasaaa..! *Nursidik*
Sabtu, 16 Oktober 2010
HR Area 5 JATIM Adakan Forum Sinergy & Partnership
TAHUN 2006
HR Area 5 JATIM Adakan Forum Sinergy & Partnership
Inti dari Forum Sinergy & Partnership yang diadakan oleh HR Area 5 Surabaya JATIM adalah, BAHWA Manajemen HR Area-5 lebih membuka diri dalam kebersamaan yang lebih transparan, agar di era kompetisi ini TELKOM selalu menjadi yang terbaik, atau Always The Best. Forum diadakan di Hotel “Melia Benoa”, Bali mulai tanggal 11 hingga 12 Desember 2006 yang bekerjasama dengan “Ridam Partner In Change”.
Forum yang boleh dibilang langka awal atau starting point untuk menuju yang lebih baik dalam pengelolaan SDM di jajaran DIVRE-V Jawa Timur ini dihadiri oleh para Senior Leaders DATEL dan CATEL, termasuk beberapa Pengurus SEKAR DPW-5 dan beberapa Pengurus SEKAR DPD se Jawa Timur.
Disini nampak, bahwa manajemen benar-benar membuka diri untuk dikoreksi dalam arti untuk menerima masukan yang positif, baik dari jajaran DATEL, CATEL dan SEKAR. Acara dikemas dalam bentuk diskusi. OSM HR05, M. Yunus mengawali acara dengan mempresentasikan program dan kebijakan pengelolaan SDM, serta beberapa materi yang merupakan HOT ISSUES, yaitu : Pensiun Dini, Assessment Kompetensi dan Penerapan Kebijakan Manajemen Performansi yang baru.
Pertanyaan dari floor lumayan banyak, sebab masalah SDM memang masalah yang penting, dari SDM-lah perusahaan ini akan maju atau mundur, akhirnya selain ada yang dijawab, juga ada yang menjadi bahan diskusi menarik, ada juga yang langsung disolusikan. Sekali lagi event ini sangat baik demik kemajuan DIVRE-V khususnya. TELKOM umumnya.
Namun yang mengagetkan ialah, statement Mr. Simon Sang Psikolog dari “Ridam Partner In Change”. Simon mengatakan, bahwa antara Manajemen dan Karyawan masih belum ada. Ini adalah pernyataan murni orang luar selaku Observer. Simon memberi solusi, yaitu lakukan Proper Communication, Komunikasi secara tepat melalui seluruh media yang ada secara rutin. Kalau mau berubah, maka harus siap menerima kritik, kata Yani yang juga dari “Ridam Partner In Change”.**NURSIDIK**
PKB, Wujud Kecintaan SEKAR pada Karyawan
TAHUN 2006
PKB, Wujud Kecintaan SEKAR pada Karyawan
Kecintaan tak terbatas SEKAR tidak hanya kepada TELKOM, namun juga kepada para anggotanya. Salah satu wujud kecintaan SEKAR pada TELKOM antara lain keberadaannya yang sangat concern terhadap setiap kebijakan yang dapat membawa dampak kerugian bagi perusahaan, sebut saja pengaruh dari regulator, kompetitor, maupun dari pressure group, dan LSM yang acapkali memberikan respon negatif kepada TELKOM. Hal ini memang telah menjadi salah satu perjuangan dan komitmen Sekar yang sudah menjadi wataknya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sementara untuk menunjukkan kecintaannya pada Anggotanya diejawantahkan melalui PKB yang didalamnya berisi kesepakatan-kesepakatan antara Manajemen dan SEKAr terkait seluk beluk pelbagai aturan yang sebagian besar menyangkut persoalan kesejahteraan karyawan.
Kecintaan seperti itulah yang antara lain menjadi daya dorong SEKAR untuk bertekad sebagai benteng perusahaan dari pengaruh buruk dari luar serta berupaya kuat melindungi seluruh Anggotanya.
Dalam Mukadimah disebutkan bahwa antara SEKAR dan Manajemen sepakat untuk melaksanakan Hubungan Industrial Pancasila dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang serasi, aman, mantap, tenteram, dan dinamis. Selain itu juga sebagai perwujudan ketenangan kerja dan perbaikan kesejahteraan Karyawan, kelangsungan usaha, kepastian hak dan kewajiban masing-masing pihak SEKAR dan Manajemen TELKOM.
SEKAR dan TELKOM wajib untuk saling mendukung dalam upaya pelaksanaan tugas Perusahaan secara jujur, bertanggungjawab, efisien, dan efektif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kepatutan, kewajaran dan kepentingan umum. SEKAR dan TELKOM sepakat untuk menjadikan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai pedoman yang mengatur hubungan kerja, sehingga harus dipatuhi dan dilaksanakan secara tepat, benar, dan dapat diuji berdasarkan rasa keadilan, kepatutan, kewajaran, dan kepentingan umum.
Dalam Mukadimah itu pun dinyatakan bahwa SEKAR dan TELKOM sepakat untuk mewujudkan kemitraan yang konstruktif dalam konteks hubungan industrial guna mempertahankan dan memajukan perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan karyawan. Serta sepakat untuk melindungi dengan berupaya meningkatkan hak-hak dan kesejahteraan karyawan, dengan memperhatikan kondisi perusahaan sesuai dengan kesepakatan bersama.
Dalam konteks itu maka sudah sepatutnya apabila SEKAR dan Manajemen saling memahami posisinya masing-masing. Tim Manajemen tentu saja telah dibekali semacam rambu-rambu berupa batasan-batasan tertentu. Tentang mana yang bisa dan tidak bisa dikompromikan dan sampai batasan mana kelonggaran yang diberikan. Sebelum masuk ke meja perundingan Tim Manajemen telah bekerja keras bernegosiasi dengan para pihak terkait untuk memenuhi harapan SEKAR. Mengapa mereka melakukan itu? Karena PKB adalah untuk semuanya. Apa artinya? Artinya jangan sampai posisinya terus dipojokkan untuk terus dihadapkan pada dilema. Jika pressure ditumpahakan terus pada Tim Manajemen, boleh jadi ia akan “terpanggang” di tengah-tengah.
Kita tidak berharap perundingan ini menghasilkan “deadlock”, karena jika ini terjadi adalah ironis. Tidak hanya akan merugikan semua pihak karena akan kembali ke pemberlakuan PKB-II, namun juga segala cipta dan rasa, segala daya dan upaya, segala dana dan sumberdaya menjadi sia-sia. Deadlock hanya akan merubuhkan citra kedua tim, karena para anggota Sekar dan seluruh karyawan dengan segala hormat akan “mencibirnya.”
Hari Pertama sengit
Pada hari pertama, perundingan difokuskan pada dua masalah, yakni masalah Tunjangan Retensi dan Tunjangan Faskes. Tunjangan Retensi yakni tunjangan yang diberikan kepada rekan-rekan kita yang bekerja di luar pulau Jawa ini, mendapat pembahasan yang sangat alot. Masalahnya masih ada gap yang cukup lebar. Manajemen hanya mampu memberikan tunjangan pada rekan di luar Pulau Jawa itu sebesar Rp. 600 ribu/karyawan/bulan, namun SEKAR tetap bersikukuh agar tunjangan itu bisa meningkat menjadi Rp. 1 juta.
Hingga tulisan ini diturunkan pada pukul 21.00 waktu Flexi, kesepakatan sementara pada angka Rp.600 ribu sebagai acuan. Hanya masalah muncul kembali terhadap Pulau Bali. Manajemen menganggap Bali masuk ke Pulau Jawa sehingga tidak perlu diberikan tunjangan Retensi. Sementara pihak Sekar menganggap bahwa Bali termasuk luar pulau Jawa dan tidak ada alasan kuat bahwa Bali harus dimasukkan dalam area Pulau Jawa.
Pertentangan muncul tentu saja dari anggota tim DPW-7 Wilayah Timur, melalui salah seorang negosiatornya, Endi Sapto, yang mengatakan bahwa Bali secara Bisnis dan Serikat masuk dalam area Divre VII, lantas mengapa dalam hal ini dibeda-bedakan. “Ini tidak masuk akal dan tidak ada justifikasi kuat untuk itu,” tandas Endi setengah emosi.
Setelah itu dijelaskan oleh Ketua Tim Manajemen, Pandji Darmawan, bahwa Bali merupakan area khusus dengan tingkat pertumbuhan kotanya yang sangat dinamis. Tidak terkecuali jika dilihat secara psikologis, demografis dan kemudahan akses yang dimiliki Bali, sehingga kota wisata dunia ini tak bisa disamakan dengan kondisi wilayah atau kota di luar Jawa lainnya. “Jangan sampai Bali malah dijadikan tujuan karyawan untuk berlomba-lomba bereksodus masuk ke wilayah ini,” tandas Pandji.
Masalah Bali tampaknya akan menjadi agenda pembicaraan lanjutan pada hari kedua. Sementara terkait dengan pemberian Faskes bagi pegawai yang bekerja setelah Nopember tahun 1995 atau Pasca IPO juga akan mendapat bahasan pada hari kedua sampai hari ketiga. Perlu diketahui bahwa sesuai dengan peraturan pasar modal, bagi perusahaan yang telah listing atau go public maka tidak diperkenankan lagi untuk memberikan fasilitas kesehatan seumur hidup. Karena itulah mereka berhak untuk mendapatkan Faskes yang harus dibayarkan setiap tahun.
Usulan tunjangan sebagai best deal tim PKB SEKAR untuk pemberian Faskes adalah minimal Rp. 12 juta termasuk istri/suami dan dua orang anak. Sedangkan kemampuan atau kesanggupan manajemen baru pada taraf Rp. 4,8 juta. Permasalahan ini tampaknya akan menuai debat cukup sengit. Maklum, jurang perbedaan yang masih centang perenang, merentang senjang, mengawang-awang.
PKB yang sejatinya bagai lakon sandiwara, ternyata menyimpan sejumlah beban pada kedua tim yang tak mudah dienyahkan. Duuh! Iiiihh! (na2s/endah/mp-135)
PKB, Wujud Kecintaan SEKAR pada Karyawan
Kecintaan tak terbatas SEKAR tidak hanya kepada TELKOM, namun juga kepada para anggotanya. Salah satu wujud kecintaan SEKAR pada TELKOM antara lain keberadaannya yang sangat concern terhadap setiap kebijakan yang dapat membawa dampak kerugian bagi perusahaan, sebut saja pengaruh dari regulator, kompetitor, maupun dari pressure group, dan LSM yang acapkali memberikan respon negatif kepada TELKOM. Hal ini memang telah menjadi salah satu perjuangan dan komitmen Sekar yang sudah menjadi wataknya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sementara untuk menunjukkan kecintaannya pada Anggotanya diejawantahkan melalui PKB yang didalamnya berisi kesepakatan-kesepakatan antara Manajemen dan SEKAr terkait seluk beluk pelbagai aturan yang sebagian besar menyangkut persoalan kesejahteraan karyawan.
Kecintaan seperti itulah yang antara lain menjadi daya dorong SEKAR untuk bertekad sebagai benteng perusahaan dari pengaruh buruk dari luar serta berupaya kuat melindungi seluruh Anggotanya.
Dalam Mukadimah disebutkan bahwa antara SEKAR dan Manajemen sepakat untuk melaksanakan Hubungan Industrial Pancasila dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang serasi, aman, mantap, tenteram, dan dinamis. Selain itu juga sebagai perwujudan ketenangan kerja dan perbaikan kesejahteraan Karyawan, kelangsungan usaha, kepastian hak dan kewajiban masing-masing pihak SEKAR dan Manajemen TELKOM.
SEKAR dan TELKOM wajib untuk saling mendukung dalam upaya pelaksanaan tugas Perusahaan secara jujur, bertanggungjawab, efisien, dan efektif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kepatutan, kewajaran dan kepentingan umum. SEKAR dan TELKOM sepakat untuk menjadikan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai pedoman yang mengatur hubungan kerja, sehingga harus dipatuhi dan dilaksanakan secara tepat, benar, dan dapat diuji berdasarkan rasa keadilan, kepatutan, kewajaran, dan kepentingan umum.
Dalam Mukadimah itu pun dinyatakan bahwa SEKAR dan TELKOM sepakat untuk mewujudkan kemitraan yang konstruktif dalam konteks hubungan industrial guna mempertahankan dan memajukan perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan karyawan. Serta sepakat untuk melindungi dengan berupaya meningkatkan hak-hak dan kesejahteraan karyawan, dengan memperhatikan kondisi perusahaan sesuai dengan kesepakatan bersama.
Dalam konteks itu maka sudah sepatutnya apabila SEKAR dan Manajemen saling memahami posisinya masing-masing. Tim Manajemen tentu saja telah dibekali semacam rambu-rambu berupa batasan-batasan tertentu. Tentang mana yang bisa dan tidak bisa dikompromikan dan sampai batasan mana kelonggaran yang diberikan. Sebelum masuk ke meja perundingan Tim Manajemen telah bekerja keras bernegosiasi dengan para pihak terkait untuk memenuhi harapan SEKAR. Mengapa mereka melakukan itu? Karena PKB adalah untuk semuanya. Apa artinya? Artinya jangan sampai posisinya terus dipojokkan untuk terus dihadapkan pada dilema. Jika pressure ditumpahakan terus pada Tim Manajemen, boleh jadi ia akan “terpanggang” di tengah-tengah.
Kita tidak berharap perundingan ini menghasilkan “deadlock”, karena jika ini terjadi adalah ironis. Tidak hanya akan merugikan semua pihak karena akan kembali ke pemberlakuan PKB-II, namun juga segala cipta dan rasa, segala daya dan upaya, segala dana dan sumberdaya menjadi sia-sia. Deadlock hanya akan merubuhkan citra kedua tim, karena para anggota Sekar dan seluruh karyawan dengan segala hormat akan “mencibirnya.”
Hari Pertama sengit
Pada hari pertama, perundingan difokuskan pada dua masalah, yakni masalah Tunjangan Retensi dan Tunjangan Faskes. Tunjangan Retensi yakni tunjangan yang diberikan kepada rekan-rekan kita yang bekerja di luar pulau Jawa ini, mendapat pembahasan yang sangat alot. Masalahnya masih ada gap yang cukup lebar. Manajemen hanya mampu memberikan tunjangan pada rekan di luar Pulau Jawa itu sebesar Rp. 600 ribu/karyawan/bulan, namun SEKAR tetap bersikukuh agar tunjangan itu bisa meningkat menjadi Rp. 1 juta.
Hingga tulisan ini diturunkan pada pukul 21.00 waktu Flexi, kesepakatan sementara pada angka Rp.600 ribu sebagai acuan. Hanya masalah muncul kembali terhadap Pulau Bali. Manajemen menganggap Bali masuk ke Pulau Jawa sehingga tidak perlu diberikan tunjangan Retensi. Sementara pihak Sekar menganggap bahwa Bali termasuk luar pulau Jawa dan tidak ada alasan kuat bahwa Bali harus dimasukkan dalam area Pulau Jawa.
Pertentangan muncul tentu saja dari anggota tim DPW-7 Wilayah Timur, melalui salah seorang negosiatornya, Endi Sapto, yang mengatakan bahwa Bali secara Bisnis dan Serikat masuk dalam area Divre VII, lantas mengapa dalam hal ini dibeda-bedakan. “Ini tidak masuk akal dan tidak ada justifikasi kuat untuk itu,” tandas Endi setengah emosi.
Setelah itu dijelaskan oleh Ketua Tim Manajemen, Pandji Darmawan, bahwa Bali merupakan area khusus dengan tingkat pertumbuhan kotanya yang sangat dinamis. Tidak terkecuali jika dilihat secara psikologis, demografis dan kemudahan akses yang dimiliki Bali, sehingga kota wisata dunia ini tak bisa disamakan dengan kondisi wilayah atau kota di luar Jawa lainnya. “Jangan sampai Bali malah dijadikan tujuan karyawan untuk berlomba-lomba bereksodus masuk ke wilayah ini,” tandas Pandji.
Masalah Bali tampaknya akan menjadi agenda pembicaraan lanjutan pada hari kedua. Sementara terkait dengan pemberian Faskes bagi pegawai yang bekerja setelah Nopember tahun 1995 atau Pasca IPO juga akan mendapat bahasan pada hari kedua sampai hari ketiga. Perlu diketahui bahwa sesuai dengan peraturan pasar modal, bagi perusahaan yang telah listing atau go public maka tidak diperkenankan lagi untuk memberikan fasilitas kesehatan seumur hidup. Karena itulah mereka berhak untuk mendapatkan Faskes yang harus dibayarkan setiap tahun.
Usulan tunjangan sebagai best deal tim PKB SEKAR untuk pemberian Faskes adalah minimal Rp. 12 juta termasuk istri/suami dan dua orang anak. Sedangkan kemampuan atau kesanggupan manajemen baru pada taraf Rp. 4,8 juta. Permasalahan ini tampaknya akan menuai debat cukup sengit. Maklum, jurang perbedaan yang masih centang perenang, merentang senjang, mengawang-awang.
PKB yang sejatinya bagai lakon sandiwara, ternyata menyimpan sejumlah beban pada kedua tim yang tak mudah dienyahkan. Duuh! Iiiihh! (na2s/endah/mp-135)
Perundingan PKB-III, dari Ramah Tamah Menuju Perdebatan Sengit
TAHUN 2006
Perundingan PKB-III, dari Ramah Tamah Menuju Perdebatan Sengit
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III kembali digelar untuk Putaran Ketiga. Kali mengambil tempat di Balikpapan dan akan berlangsung mulai hari ini tanggal 29 Nopember s/d 2 Desember 2006. Tim Perunding dari kedua belah pihak sebagian besar sudah hadir di Balikpapan. Momen ini dimanfaatkan EGM Divre VI selaku tuan rumah PKB.
Bertempat di RM Aleksa yang berlokasi di pinggir pantai di Balikpapan, tadi malam (28/11) EGM Divre VI bertatap muka dengan kedua tim perunding. Tentu saja pertemuan seperti berlangsung santai, akrab dan tanpa beban. Hadir pada acara ini EGM Divre VI Triana, Ketua perundingan PKB sekaligus Sekjen DPP SEKAR TELKOM Wisnu Adhi Wuryanto, dan Sekretaris Bambang Soenarmo, Kabid OKK Januar Setyo, dan lain lain. Juga hadir Panji Darmawan Wakil Ketua Tim Perundingan dari Manajemen dan Sekretaris Ali Rahman Mursalin, beserta Manajemen Telkom Divre VI Kalimantan.
EGM Divre VI Triana Mulyatsa dalam sambutannya mempromosikan Kalimantan yang disebutnya sebagai Pulau Harapan karena income per kapitanya yang tingggi. Dan khususnya bagi pegawai Telkom yang berlokasi di Balikpapan, tersedia fasilitas olah raga yang sangat lengkap mulai dari Tennis Lapangan, Basket, Bolla Volley, Sepakbola, Golf, Tenis Meja, hingga Jet Ski.
Berangkat ke kantor pun juga tidak perlu buru-buru, karena kondisi lalu lintas yang tidak macet dan jarak yang sangat dekat dari rumah ke kantor.
”Kalau di Jawa, berangkat ke kantor itu untuk bekerja, namun di Kalimantan adalah untuk rekreasi,” canda Triana. ”Kenyataannya banyak orang Kalimantan ke Jawa dibandingkan orang Jawa ke Kalimantan. Ini bukan promosi, tapi untuk membuka wawasan agar pegawai yang sekarang ada di Jawa tidak usah takut jika mutasi nasional (munas) ke Kalimantan,” imbuh Triana. Disampaikannya juga bahwa hubungan kekeluargaan pegawai di Kalimantan sangat akrab seperti saudara, karena sama-sama sebagai perantauan.
Berkaitan dengan perundingan PKB III yang akan berlangsung mulai hari ini 29 Nopember – 2 Desember 2006, Triana berharap agar seluruh peserta dalam kondisi sehat walafiat dan sama-sama dapat menghasilkan kesepakatan sesuai yang diharapkan.
Acara ramah tamah diselingi dengan lantunan suara emas dari Triana dan beberapa peserta dari divisi lainnya. Paginya peserta sempat berolah raga dan merasakan nikmatnya bekerja di Kalimantan yaitu dengan main Jet Ski milik Telkom Kalimantan.
Dua bahasan utama
Mengawali perundingan, Wisnu : AW yang memimpin perundingan PKB-III sejak pukul 10.00 Waktu Flexi, menyampaikan bahwa yang perlu dituntaskan dalam PKB III ini adalah masalah Tunjangan Retensi dan Faskes. Ini tak bisa ditawar-tawar lagi, harus close saat ini. Karena apabila tidak selesai dan dibicarkan pada PKB berikutnya (PKB-IV) akan semakin sulit dicari jalan keluarnya..
Selain itu, tandas Wisnu, saat ini masih ada perbedaan persepsi antara pengertian bonus (jasprod) dengan premi. Akibat adanya perbedaan ini dalam RKAP 2007 Manajemen tidak tidak menganggarkan keduanya. Yang dianggarkan hanya bonus saja.
Hal lain yang perlu lebih fokus dibicarakan dan masih belum disepakati adalah masalah tunjangan cuti, tunjangan tahun ajaran baru dan THP. Wisnu berharap kiranya dalam PKB-III dapat dituntaskan seluruhnya.
Sementara itu Kabid OKK DPP Sekar, Januar Setyowidodo, menandaskan bahwa dalam PKB Putaran Ketiga ini diharapkan diperoleh beberapa close dengan angka yang fixed. Menurut Januar, jika dalam Putaran I di Jakarta kita masih melakukan penjajagan dengan menyodorkan angka-angka yang masih global serta mencari style bagi masing-masing tim perunding agar dapat dicapai tingkat kesepakatan yang lebih cepat dan hasil terbaik. Dalam putaran Kedua masih banyak dibahas hal-hal yang bersifat wording, maka dalam.
.
Hasil yang paling menggembarakan anggota Sekar selama Putaran Ketiga PKB III saat ini adalah adanya peningkatan THP dari 20,88 kali menjadi 23,14 kali. (Endah/Nas)..
Perundingan PKB-III, dari Ramah Tamah Menuju Perdebatan Sengit
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III kembali digelar untuk Putaran Ketiga. Kali mengambil tempat di Balikpapan dan akan berlangsung mulai hari ini tanggal 29 Nopember s/d 2 Desember 2006. Tim Perunding dari kedua belah pihak sebagian besar sudah hadir di Balikpapan. Momen ini dimanfaatkan EGM Divre VI selaku tuan rumah PKB.
Bertempat di RM Aleksa yang berlokasi di pinggir pantai di Balikpapan, tadi malam (28/11) EGM Divre VI bertatap muka dengan kedua tim perunding. Tentu saja pertemuan seperti berlangsung santai, akrab dan tanpa beban. Hadir pada acara ini EGM Divre VI Triana, Ketua perundingan PKB sekaligus Sekjen DPP SEKAR TELKOM Wisnu Adhi Wuryanto, dan Sekretaris Bambang Soenarmo, Kabid OKK Januar Setyo, dan lain lain. Juga hadir Panji Darmawan Wakil Ketua Tim Perundingan dari Manajemen dan Sekretaris Ali Rahman Mursalin, beserta Manajemen Telkom Divre VI Kalimantan.
EGM Divre VI Triana Mulyatsa dalam sambutannya mempromosikan Kalimantan yang disebutnya sebagai Pulau Harapan karena income per kapitanya yang tingggi. Dan khususnya bagi pegawai Telkom yang berlokasi di Balikpapan, tersedia fasilitas olah raga yang sangat lengkap mulai dari Tennis Lapangan, Basket, Bolla Volley, Sepakbola, Golf, Tenis Meja, hingga Jet Ski.
Berangkat ke kantor pun juga tidak perlu buru-buru, karena kondisi lalu lintas yang tidak macet dan jarak yang sangat dekat dari rumah ke kantor.
”Kalau di Jawa, berangkat ke kantor itu untuk bekerja, namun di Kalimantan adalah untuk rekreasi,” canda Triana. ”Kenyataannya banyak orang Kalimantan ke Jawa dibandingkan orang Jawa ke Kalimantan. Ini bukan promosi, tapi untuk membuka wawasan agar pegawai yang sekarang ada di Jawa tidak usah takut jika mutasi nasional (munas) ke Kalimantan,” imbuh Triana. Disampaikannya juga bahwa hubungan kekeluargaan pegawai di Kalimantan sangat akrab seperti saudara, karena sama-sama sebagai perantauan.
Berkaitan dengan perundingan PKB III yang akan berlangsung mulai hari ini 29 Nopember – 2 Desember 2006, Triana berharap agar seluruh peserta dalam kondisi sehat walafiat dan sama-sama dapat menghasilkan kesepakatan sesuai yang diharapkan.
Acara ramah tamah diselingi dengan lantunan suara emas dari Triana dan beberapa peserta dari divisi lainnya. Paginya peserta sempat berolah raga dan merasakan nikmatnya bekerja di Kalimantan yaitu dengan main Jet Ski milik Telkom Kalimantan.
Dua bahasan utama
Mengawali perundingan, Wisnu : AW yang memimpin perundingan PKB-III sejak pukul 10.00 Waktu Flexi, menyampaikan bahwa yang perlu dituntaskan dalam PKB III ini adalah masalah Tunjangan Retensi dan Faskes. Ini tak bisa ditawar-tawar lagi, harus close saat ini. Karena apabila tidak selesai dan dibicarkan pada PKB berikutnya (PKB-IV) akan semakin sulit dicari jalan keluarnya..
Selain itu, tandas Wisnu, saat ini masih ada perbedaan persepsi antara pengertian bonus (jasprod) dengan premi. Akibat adanya perbedaan ini dalam RKAP 2007 Manajemen tidak tidak menganggarkan keduanya. Yang dianggarkan hanya bonus saja.
Hal lain yang perlu lebih fokus dibicarakan dan masih belum disepakati adalah masalah tunjangan cuti, tunjangan tahun ajaran baru dan THP. Wisnu berharap kiranya dalam PKB-III dapat dituntaskan seluruhnya.
Sementara itu Kabid OKK DPP Sekar, Januar Setyowidodo, menandaskan bahwa dalam PKB Putaran Ketiga ini diharapkan diperoleh beberapa close dengan angka yang fixed. Menurut Januar, jika dalam Putaran I di Jakarta kita masih melakukan penjajagan dengan menyodorkan angka-angka yang masih global serta mencari style bagi masing-masing tim perunding agar dapat dicapai tingkat kesepakatan yang lebih cepat dan hasil terbaik. Dalam putaran Kedua masih banyak dibahas hal-hal yang bersifat wording, maka dalam.
.
Hasil yang paling menggembarakan anggota Sekar selama Putaran Ketiga PKB III saat ini adalah adanya peningkatan THP dari 20,88 kali menjadi 23,14 kali. (Endah/Nas)..
Mendengar PKB-III SEKAR
TAHUN 2006
Mendengar PKB-III SEKAR
Pengantar:. Seperti dimaklumi putaran pertama Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III berlangsung di Jakarta pada awal bulan ini dan Putaran II di Makassar di pertengahan bulan. Kali ini mulai 29 Nopember s/d 2 Desember 2006, PKB III SEKAR memasuki putaran ketiga bertempat di Balikpapan. Memang menggelar sebuah kompromi lewat PKB membutuhkan waktu cukup. Maklum, yang dibahas, tak hanya menyamakan persepsi atas 18 bab dan 78 pasal setebal 56 halaman. Namun yang sulit justru bagaimana agar isinya mencapai tingkat kesepakatan yang dapat diterima dengan hati lapang dada dan perangai “sumringah.” Tapi, ah, apa makna yang terkandung di dalamnya dan bagiamana masing-masing pihak harus bersikap?
Sejak awal, sebelum PKB III digelar, ada tiga perkara yang menarik untuk disimak. Pertama, adanya kesepakatan penambahan jumlah delegasi dari masing-masing pihak. Sebelumnya terdiri dari 7 (tujuh) orang kini menjadi masing-masing 16 (enam belas) orang. Kedua, masing-masing delegasi disatukan untuk diikutsertakan dalam pesantren kilat yang berlangsung di sebuah hotel di Bandung. Dan ketiga, tempat negosiasi yang berlangsung di beberapa tempat untuk menghindari kejenuhan.
Setidaknya ketiga daya tarik tersebut merupakan terobosan baru dan angin segar bagi upaya mencapai suatu titik temu untuk membahas pelbagai aspek dan seluk beluk bidang garapan di perusahaan tercinta kita ini. Sasaran akhirnya adalah sebuah kesepakatan yang dilandasi oleh nilai kompromistis yang bersahaja terlingkupi aura spiritual.
Oleh karena itulah mengapa pelaksanaan PKB ini menjadi sangat penting artinya. Tak hanya bagi Manajemen TELKOM dalam upaya membuka dan membedah diri guna memenuhi aspek transfaransi dalam rangka good corporate governance (GCG). Namun juga bagi SEKAR sangat penting dan amat strategis artinya dalam upaya mempertahankan dan atau meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara lebih berarti.
Hak kedua pihak
Dalam Pasal 5 tentang Hak TELKOM dan SEKAR, dinyatakan TELKOM berhak: Mengelola dan mengatur operasional TELKOM, diantaranya adalah : Membuat keputusan strategis untuk kepentingan dan kemajuan TELKOM; Menyusun anggaran TELKOM; Mengangkat, mempromosikan dan memutasikan Karyawan; Mengelola karyawan yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab TELKOM sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku; Memberikan sanksi kepada karyawan yang melanggar Peraturan Disiplin Karyawan. Serta tentu saja TELKOM berhak untuk mengajukan keberatan dan atau tegoran atas tindakan SEKAR yang betentangan dengan perjanjian ini.
Sedangkan SEKAR berhak : Mewakili, membela dan melindungi anggota; Mengatur organisasi dan anggotanya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Membentuk Lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan karyawan; Melakukan kegiatan lainnya dibidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Serta SEKAR pun memiliki hak sama untuk mengajukan keberatan dan atau tegoran (Somasi) secara lisan maupun tertulis atas tindakan TELKOM yang bertentangan dengan Perjanjian ini.
Dalam Pasal 5 ayat (3), disebutkan apabila dalam pengelolaan perusahaan, TELKOM akan menetapkan kebijakan manajemen yang berdampak terhadap Kesejahteraan Karyawan, maka TELKOM harus mengkoordinasikan terlebih dahulu dengan SEKAR.
Mari kita simak Pasal 6, mengenai Peran dan Fungsi SEKAR. Dalam pasal (1) disebutkan bahwa tujuan SEKAR adalah untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi anggota SEKAR dan keluarganya. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa Peran dan Fungsi SEKAR adalah: Sebagai pihak dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial; Wakil Karyawan dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya; Sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya; Perencana, pelaksana dan penanggung jawab pemogokan Karyawan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Serta Wakil karyawan dalam memperjuangkan kepemilikan saham karyawan di TELKOM.
Memaknai PKB
Tentu kita berharap agar kehadiran SEKAR mampu memberi makna tersendiri bagi seluruh anggotanya. Apalagai sekitar 85% karyawan TELKOM masuk menjadi Anggota SEKAR. Tanggung jawab moral yang besar seperti inilah yang pada gilirannya harus semakin menumbuhkan kesadaran pada pengurus Sekar Telkom. Dalam arti kehadirannya bukan untuk menunjukkan sebuah kekuatan kontroversial apalagi arogansi. Walaupun secara naluri dan konseptual Sekar terlahir sebagai kekuatan penyeimbang manakala terjadi distorsitas dan riskanisasi di lingkungan perusahaan.
Kesadaran akan tanggung jawab terhadap kesejahteraan para anggotanya serta demi menjaga survival dan sustainability perusahaan, pada gilirannya ia pun harus mampu berperan sebagai benteng perusahaan, manakala perusahaan mendapat serangan tidak lazim dari eksternal.
Buah perjuangan Sekar telah kita rasakan bersama. Kita tak bisa menutup mata atas pelbagai perjuangan Sekar yang berbuah ranum dalam bentuk peningkatan kesejahteraan anggotanya. Di lain pihak Manajemen pun, kini semakin menyadari untuk melibatkan Sekar sebelum sebuah kebijakan digariskan. Apalagi jika itu terkati dengan kesejahteraan karyawan. Salah satu perjuangan fenomenal Sekar adalah keberhasilan melahirkan sebuah masterpiece dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Sekar dengan Manajemen Telkom.
Sekar memang telah berupaya melahirkan serangkaian kebijakan penting perusahaan yang dilandasi semangat untuk menempatkan karyawan sebagai manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi. Namun juga jangan sampai Sekar dijadikan sebagai alat untuk memenuhi ambisi segelintir orang untuk kepentingan diri atau kelompoknya. Artinya keberadaan Sekar tetap dituntut untuk memerankan fungsi dan tugasnya jelis, cerdas dan elegan.
PKB boleh jadi telah menjadi sebuah manifestasi kemitraan yang sejati. Namun untuk untuk membangunnya jelas tidak mudah. Karena diperlukan overlapping of interest, kesamaan saling pengertian, kesamaan persepsi serta tumbuhnya saling pengertian yang dilandasi kompromi-kompromi yang lebih mementingkan semua pihak.
Sekar memang tak perlu menuntut terlalu berlebihan di luar kemampuan perusahaan atau yang bisa menimbulkan kecemburuan pihak eksternal Kompromi-kompromi harus mampu melahirkan output yang rasional dan proporsional. Sebaliknya Manajemen pun jangan terlalu banyak pertimbangan dan berhitung berlarut-larut, jika memungkinkan untuk dipenuhi dan tidak membahayakan perusahaan ketok palu saja.
Bagaimana pun hingga saat ini seluruh anggota Sekar tengah menanti dengan harap-harap cemas. Menanti lahirnya sebuah kesepakatan atas segenggam perbaikan kesejahteraan bagi segenap anggota dan karyawan. Apalagi PKB saat ini bukan lagi sebagai konsep hitam di atas putih tanpa arti. PKB saat ini telah menjadi sebuah rujukan utama bagi Sekar dan Manajemen. Sebagai suatu perikatan dan pedoman yang bersifat operasional, yang di dalamnya terkandung komitmen dan kesiapan para pihak untuk melaksanakannya, serta menerima konsekuensi hukum bila melanggarnya.
Akhirnya, demi bangsa dan negara serta kecintaan pada TELKOM, kiranya Sekar tidak segan untuk tetap kritis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan Telkom. Sekar tak perlu ragu menyatakan penolakan terhadap segenap upaya yang dapat merugikan kepentingan Bangsa. Termasuk upaya regulator atau siapapun yang berupaya melakukan penjualan aset-aset perusahaan, merubuhkan citra atau menurunkan revenue serta yang meluluh-lantakan kepentingan nasional. Di saat seperti itu, Sekkkarrr..., harus tetap bangkit, berani dan berjuang secara jeli, cerdas dan elegant. Dan, camkan, jangan biarkan siapapun memperalatmu!!!! (na2s/MP-135).
Mendengar PKB-III SEKAR
Pengantar:. Seperti dimaklumi putaran pertama Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III berlangsung di Jakarta pada awal bulan ini dan Putaran II di Makassar di pertengahan bulan. Kali ini mulai 29 Nopember s/d 2 Desember 2006, PKB III SEKAR memasuki putaran ketiga bertempat di Balikpapan. Memang menggelar sebuah kompromi lewat PKB membutuhkan waktu cukup. Maklum, yang dibahas, tak hanya menyamakan persepsi atas 18 bab dan 78 pasal setebal 56 halaman. Namun yang sulit justru bagaimana agar isinya mencapai tingkat kesepakatan yang dapat diterima dengan hati lapang dada dan perangai “sumringah.” Tapi, ah, apa makna yang terkandung di dalamnya dan bagiamana masing-masing pihak harus bersikap?
Sejak awal, sebelum PKB III digelar, ada tiga perkara yang menarik untuk disimak. Pertama, adanya kesepakatan penambahan jumlah delegasi dari masing-masing pihak. Sebelumnya terdiri dari 7 (tujuh) orang kini menjadi masing-masing 16 (enam belas) orang. Kedua, masing-masing delegasi disatukan untuk diikutsertakan dalam pesantren kilat yang berlangsung di sebuah hotel di Bandung. Dan ketiga, tempat negosiasi yang berlangsung di beberapa tempat untuk menghindari kejenuhan.
Setidaknya ketiga daya tarik tersebut merupakan terobosan baru dan angin segar bagi upaya mencapai suatu titik temu untuk membahas pelbagai aspek dan seluk beluk bidang garapan di perusahaan tercinta kita ini. Sasaran akhirnya adalah sebuah kesepakatan yang dilandasi oleh nilai kompromistis yang bersahaja terlingkupi aura spiritual.
Oleh karena itulah mengapa pelaksanaan PKB ini menjadi sangat penting artinya. Tak hanya bagi Manajemen TELKOM dalam upaya membuka dan membedah diri guna memenuhi aspek transfaransi dalam rangka good corporate governance (GCG). Namun juga bagi SEKAR sangat penting dan amat strategis artinya dalam upaya mempertahankan dan atau meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara lebih berarti.
Hak kedua pihak
Dalam Pasal 5 tentang Hak TELKOM dan SEKAR, dinyatakan TELKOM berhak: Mengelola dan mengatur operasional TELKOM, diantaranya adalah : Membuat keputusan strategis untuk kepentingan dan kemajuan TELKOM; Menyusun anggaran TELKOM; Mengangkat, mempromosikan dan memutasikan Karyawan; Mengelola karyawan yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab TELKOM sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku; Memberikan sanksi kepada karyawan yang melanggar Peraturan Disiplin Karyawan. Serta tentu saja TELKOM berhak untuk mengajukan keberatan dan atau tegoran atas tindakan SEKAR yang betentangan dengan perjanjian ini.
Sedangkan SEKAR berhak : Mewakili, membela dan melindungi anggota; Mengatur organisasi dan anggotanya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Membentuk Lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha peningkatan kesejahteraan karyawan; Melakukan kegiatan lainnya dibidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Serta SEKAR pun memiliki hak sama untuk mengajukan keberatan dan atau tegoran (Somasi) secara lisan maupun tertulis atas tindakan TELKOM yang bertentangan dengan Perjanjian ini.
Dalam Pasal 5 ayat (3), disebutkan apabila dalam pengelolaan perusahaan, TELKOM akan menetapkan kebijakan manajemen yang berdampak terhadap Kesejahteraan Karyawan, maka TELKOM harus mengkoordinasikan terlebih dahulu dengan SEKAR.
Mari kita simak Pasal 6, mengenai Peran dan Fungsi SEKAR. Dalam pasal (1) disebutkan bahwa tujuan SEKAR adalah untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi anggota SEKAR dan keluarganya. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa Peran dan Fungsi SEKAR adalah: Sebagai pihak dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial; Wakil Karyawan dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya; Sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya; Perencana, pelaksana dan penanggung jawab pemogokan Karyawan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Serta Wakil karyawan dalam memperjuangkan kepemilikan saham karyawan di TELKOM.
Memaknai PKB
Tentu kita berharap agar kehadiran SEKAR mampu memberi makna tersendiri bagi seluruh anggotanya. Apalagai sekitar 85% karyawan TELKOM masuk menjadi Anggota SEKAR. Tanggung jawab moral yang besar seperti inilah yang pada gilirannya harus semakin menumbuhkan kesadaran pada pengurus Sekar Telkom. Dalam arti kehadirannya bukan untuk menunjukkan sebuah kekuatan kontroversial apalagi arogansi. Walaupun secara naluri dan konseptual Sekar terlahir sebagai kekuatan penyeimbang manakala terjadi distorsitas dan riskanisasi di lingkungan perusahaan.
Kesadaran akan tanggung jawab terhadap kesejahteraan para anggotanya serta demi menjaga survival dan sustainability perusahaan, pada gilirannya ia pun harus mampu berperan sebagai benteng perusahaan, manakala perusahaan mendapat serangan tidak lazim dari eksternal.
Buah perjuangan Sekar telah kita rasakan bersama. Kita tak bisa menutup mata atas pelbagai perjuangan Sekar yang berbuah ranum dalam bentuk peningkatan kesejahteraan anggotanya. Di lain pihak Manajemen pun, kini semakin menyadari untuk melibatkan Sekar sebelum sebuah kebijakan digariskan. Apalagi jika itu terkati dengan kesejahteraan karyawan. Salah satu perjuangan fenomenal Sekar adalah keberhasilan melahirkan sebuah masterpiece dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Sekar dengan Manajemen Telkom.
Sekar memang telah berupaya melahirkan serangkaian kebijakan penting perusahaan yang dilandasi semangat untuk menempatkan karyawan sebagai manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi. Namun juga jangan sampai Sekar dijadikan sebagai alat untuk memenuhi ambisi segelintir orang untuk kepentingan diri atau kelompoknya. Artinya keberadaan Sekar tetap dituntut untuk memerankan fungsi dan tugasnya jelis, cerdas dan elegan.
PKB boleh jadi telah menjadi sebuah manifestasi kemitraan yang sejati. Namun untuk untuk membangunnya jelas tidak mudah. Karena diperlukan overlapping of interest, kesamaan saling pengertian, kesamaan persepsi serta tumbuhnya saling pengertian yang dilandasi kompromi-kompromi yang lebih mementingkan semua pihak.
Sekar memang tak perlu menuntut terlalu berlebihan di luar kemampuan perusahaan atau yang bisa menimbulkan kecemburuan pihak eksternal Kompromi-kompromi harus mampu melahirkan output yang rasional dan proporsional. Sebaliknya Manajemen pun jangan terlalu banyak pertimbangan dan berhitung berlarut-larut, jika memungkinkan untuk dipenuhi dan tidak membahayakan perusahaan ketok palu saja.
Bagaimana pun hingga saat ini seluruh anggota Sekar tengah menanti dengan harap-harap cemas. Menanti lahirnya sebuah kesepakatan atas segenggam perbaikan kesejahteraan bagi segenap anggota dan karyawan. Apalagi PKB saat ini bukan lagi sebagai konsep hitam di atas putih tanpa arti. PKB saat ini telah menjadi sebuah rujukan utama bagi Sekar dan Manajemen. Sebagai suatu perikatan dan pedoman yang bersifat operasional, yang di dalamnya terkandung komitmen dan kesiapan para pihak untuk melaksanakannya, serta menerima konsekuensi hukum bila melanggarnya.
Akhirnya, demi bangsa dan negara serta kecintaan pada TELKOM, kiranya Sekar tidak segan untuk tetap kritis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan Telkom. Sekar tak perlu ragu menyatakan penolakan terhadap segenap upaya yang dapat merugikan kepentingan Bangsa. Termasuk upaya regulator atau siapapun yang berupaya melakukan penjualan aset-aset perusahaan, merubuhkan citra atau menurunkan revenue serta yang meluluh-lantakan kepentingan nasional. Di saat seperti itu, Sekkkarrr..., harus tetap bangkit, berani dan berjuang secara jeli, cerdas dan elegant. Dan, camkan, jangan biarkan siapapun memperalatmu!!!! (na2s/MP-135).
Balikpapan Siap Mendukung Suksesnya PKB III
TAHUN 2006
Balikpapan Siap Mendukung Suksesnya PKB III
Seluruh jajaran Telkom Kalimantan baik dari unsur Managemen maupun SEKAR Kalimantan siap mendukung suksesnya perundingan PKB III putaran ke 3 yang diselenggarakan di Hotel Sagita, Balikpapan. Adapun perundingan dijadualkan mulai tanggal 29 Nopember – 2 Desember 2006 sebagai kelanjutan dari perundingan putaran 2 yang dilaksanakan di Makassar.
Jika pada perundingan PKB I & PKB II lebih banyak membahas mengenai masalah peningkatan kesejahteraan pensiun, maka pada perundingan PKB III antara SEKAR TELKOM dan Manajemen yang akan berlaku mulai tahun 2006-2008 ini pembahasan lebih terfokus kepada pegawai yang masih aktif. Hot issue-nya antara lain Faskes untuk pegawai yang diangkat pasca 1995, tunjangan retensi luar Jawa dan usulan MPP 3 tahun.
Pada putaran 3 ini, merupakan putaran perundingan yang sangat menentukan. Selain finalisasi wording, akan dibahas masalah fundamental yaitu aspek finansial dari PKB III. Adapun detil dari item perundingan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
- Fokus penyelesaian aspek finansial meliputi antara lain : gaji dasar, insentif, tunjangan cuti besar, transport cuti, BPFP dan sebagainya.
- Faskes untuk pegawai yang diangkat pasca 1995.
- Finalisasi wording (redaksional) kata demi kata pada ayat dan pasal yang tercantum pada PKB III mulai dari dari rekrut pegawai baru hingga pensiun, antara lain mengenai mutasi nasional, promosi, mutasi, hukuman disiplin, cuti, dan sebagainya.
Diharapkan PKB III tahap akhir ini dapat berlangsung dengan lancar sehingga bisa didapatkan ’dealed’ yang manis dari kedua belah pihak yaitu SEKAR TELKOM dan Manajemen. Dukungan penuh dari berbagai pihak tentu akan membantu kesuksesan PKB III nantinya. ***Endah RH
Balikpapan Siap Mendukung Suksesnya PKB III
Seluruh jajaran Telkom Kalimantan baik dari unsur Managemen maupun SEKAR Kalimantan siap mendukung suksesnya perundingan PKB III putaran ke 3 yang diselenggarakan di Hotel Sagita, Balikpapan. Adapun perundingan dijadualkan mulai tanggal 29 Nopember – 2 Desember 2006 sebagai kelanjutan dari perundingan putaran 2 yang dilaksanakan di Makassar.
Jika pada perundingan PKB I & PKB II lebih banyak membahas mengenai masalah peningkatan kesejahteraan pensiun, maka pada perundingan PKB III antara SEKAR TELKOM dan Manajemen yang akan berlaku mulai tahun 2006-2008 ini pembahasan lebih terfokus kepada pegawai yang masih aktif. Hot issue-nya antara lain Faskes untuk pegawai yang diangkat pasca 1995, tunjangan retensi luar Jawa dan usulan MPP 3 tahun.
Pada putaran 3 ini, merupakan putaran perundingan yang sangat menentukan. Selain finalisasi wording, akan dibahas masalah fundamental yaitu aspek finansial dari PKB III. Adapun detil dari item perundingan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
- Fokus penyelesaian aspek finansial meliputi antara lain : gaji dasar, insentif, tunjangan cuti besar, transport cuti, BPFP dan sebagainya.
- Faskes untuk pegawai yang diangkat pasca 1995.
- Finalisasi wording (redaksional) kata demi kata pada ayat dan pasal yang tercantum pada PKB III mulai dari dari rekrut pegawai baru hingga pensiun, antara lain mengenai mutasi nasional, promosi, mutasi, hukuman disiplin, cuti, dan sebagainya.
Diharapkan PKB III tahap akhir ini dapat berlangsung dengan lancar sehingga bisa didapatkan ’dealed’ yang manis dari kedua belah pihak yaitu SEKAR TELKOM dan Manajemen. Dukungan penuh dari berbagai pihak tentu akan membantu kesuksesan PKB III nantinya. ***Endah RH
GM SBT Berdiskusi Dengan SEKAR TELKOM

TAHUN 2006
GM SBT Berdiskusi Dengan SEKAR TELKOM
Pertama kalinya GM TELKOM SBT, Tulus Sudarsono didampingi Deputinya, Sujito melakukan diskusi dengan jajaran Pengurus SEKAR DPD TELKOM SBT, Senin (27/11) di ruang kerjanya Gedung OPMC Lantai-4 Jln. Ketintang 156, Surabaya. Diskusi difokuskan ke masalah kondisi perusahaan pada umumnya dan SBT pada khususnya di era kompetisi yang dalam diskusi ini bermula ke masalah seputar PKB-III SEKAR TELKOM.
Ketua DPD SEKAR TELKOM SBT, Dwi Anggara dalam kesempatan tersebut memaparkan sekilas progres PKB-III SEKAR TELKOM mulai putaran pertama di Jakarta, hingga putaran kedua di Makassar. Kemudian Dwi juga menginformasikan rencana putaran ketiga, dimana masing-masing putaran para OSM HR ALL DIVRE memang diminta untuk mengikutinya agar tak mengalami kendala di lapangan nantinya (pada saat implementasinya).
Kemudian GM SBT mulai menginjak ke materi yaitu tentang kondisi perusahaan yang dihadapkan pada kompetisi yang sangat ketat, dimana menuntut seluruh jajaran untuk bekerja lebih keras dan cerdas lagi. Isu spin off Flexi juga harus dapat diantisipasi oleh SEKAR dengan baik. Trisula yang terdiri dari POTS, Flexi dan Speedy harus lebih dicermati agar lebih survive. POTS mulai decline, Flexi dan Speedy tak kunjung dewasa, jadi harus dicermati.
Kinerja SBT sendiri yang target Revenue-nya 1,3 T memang mustahil dapat diraih di era yang sangat kompetitif ini. Apalagi dalam menutup tahun 2006 ini tinggal sisa sebulan lagi. Walau angka optimis telah kita rumuskan, namun itupun masih perlu ”extra efforts” dari kita semua. Atas usul SEKAR agar problematika kinerja SBT ini dikomunikasikan dalam forum feedback ternyata diterima Manajemen yang dalam waktu dekat ini akan menggelar forum dimaksud.*NURSIDIK*
AP-II Juanda :”Kami Setia Kepada Telkom Selamanya”
TAHUN 2006
AP-II Juanda :”Kami Setia Kepada Telkom Selamanya”
Perjuangan TELKOM dalam memaintain pelanggan Corporatenya di Bandara Internasional Juanda memang tak sia-sia, pasalnya pihak Angkasa Pura-II Juanda yang diwakili Pak Didik saat acara syukuran pada hari Jumat malam (24/11) mengatakan dihadapan para Senior Leaders, bahwa pihaknya (AP-II : Red) akan setia kepada TELKOM untuk selamanya. Kami akan setia kepada PT. TELKOM untuk selamanya, kata Didik. Ucapan Alhamdulillah disusul applause menggema di lantai-2 STO WARU-2 yang dikenal juga dengan nama STO Tropodo karena lokasi STOnya ada di kompleks PERUMAHAN TROPODO.
Dalam kesan-kesannya, Didik mengakui bahwa Support dari PT. TELKOM memang luar biasa, untuk itu Didik atas nama Manajemen Angkasa Pura-II Juanda mengucapkan terimakasih. Saya tau, bahwa Telkom punya semua, jadi saya akan tetap setia kepada PT. TELKOM, paparnya. Memang di Bandara Internasional Juanda Baru ada beberapa Provider yang saling bersaing sejak Bandara Lama dulu.
Sementara itu rekan Hidayat selaku AM (Account Manager) mengisahkan tentang awal menangnya TELKOM DIVRE-V “bertarung” di Bandara Internasional ini. Saya dulu ditantang berani nggak melayani Angkasa Pura-II (AP-II) Juanda. Tantangan itu saya terima lantaran saya mantan Arek SBT yang saya tau pengorbanannya sangat excellent. Bagi saya Bandara Juanda adalah “Medan Perang” yang terbuka bagi Provider manapun untuk masuk.
Ditambahkan oleh Hidayat, bahwa pihak AP-II Bandara Juanda ini sangat Perfect, semua harus detil, oleh karena selama ini TELKOM lebih bagus, maka tak heran kalau TELKOMlah yang dipilihnya. Sinergi TELKOM SBT dan DIVRE-V merupakan POWER, apalagi lagi ditambah dengan TELKOMGroupnya. Kami optimis, bahwa AP akan menjadi mitra Telkom selamanya, kuncinya. *NURSIDIK*
Tuan Rumah PKB-III Di Makassar Selalu Committed-2U
TAHUN 2006
Tuan Rumah PKB-III Di Makassar Selalu Committed-2U
Seperti halnya pelaksanaan di Jakarta, maka pelaksanaan PKB-III SEKAR TELKOM putaran kedua di Makassar ini selalu dikawal oleh Tuan Rumah jajaran Pengurus DPW-VII Makassar beserta beberapa DPDnya. Ini menunjukkan, bahwa semangat Committed-2U untuk mensukseskan PKB-III sungguh luar biasa, apalagi Tim Perunding dari Manajemen sendiri juga telah bertekad yang sama, bahkan berobsesi agar PKB-III SEKAR TELKOM ini dapat dijadikan sebagai Benchmark bagi Serikat Karyawan dari perusahaan lain.
Tuan Rumah yang baru saja melakukan pengalihan pengelolaan Unit KSO setelah terjadi Buy-Out, selain mengawal ketat jalannya perundingan mulai materi konten hingga diskusi-diskusi dengan semangat kebersamaan dan kemitraan yang konstruktif, juga mengawal/menjamu para peserta dengan baik. Ketua DPW-VII sendiri tak canggung untuk menjadi driver, ini semua demi suksesnya acara yang merupakan hajat hidup para karyawan karyawati TELKOM.
Penyediaan transportasi ketika melakukan kegiatan spiritual, yaitu ziarah ke Makam Syech Yusuf tersedia sehingga berjalan lancar. Syech Yusuf merupakan ulama besar Sulawesi Selatan yang dibuang ke Pretoria, Afrika Selatan karena menggelorakan perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah. Demikian juga saat perjalanan ke Masjid tertua dan melakukan sholat disana, serta ke museum sejarah.
Tuan Rumah setiap harinya selalu ”memasang” dua orang Pengurus sebagai LO (Liason Officier) saat berlangsungnya perundingan, siapa tau ada keperluan mendadak, enth soal gangguan teknis atau barangkali ada yang perlu dikoordinasikan dan lain sebagainya, maka LO ini dengan sigapnya mengakomodasi seusai keperluan. Dan Alhamdulillah berkat kerjasama yang bagus, PKB-III di Makassar ini hingga hari keempat berjalan mulus dan lancar. **NURSIDIK**
“Wording” Pasal Demi Pasal Dari PKB-III Dibahas Lagi
TAHUN 2006
“Wording” Pasal Demi Pasal Dari PKB-III Dibahas Lagi
Baik konten maupun redaksional (wording) pasal demi pasal, bahkan ayat demi ayat dari PKB-III SEKAR TELKOM kembali dibahas dan didiskusikan lagi pada hari ketiga, Rabu (22/11) setelah sehari sebelumnya perhatian masing-masing Tim Perunding baik dari SEKAR, maupun dari Manajemen tertuju kepada upacara kick-off integrasi Unit KSO VII ke TELKOM di Halaman Kantor DIVRE-VII, Jln. AP Pettarani 2-4, Makassar.
Masing-masing pihak dalam pembahasan ini menampilkan DRAFT. Jadi isi pasal per pasal dan ayat pe ayat dalam forum WORDING ini ada dua versi, yaitu versi DRAFT SEKAR dan versi DRAFT TELKOM, yang kemudian dikolaborasikan secara sinerjis melalui proses perdebatan yang pada gilirannya menghasilkan best-deal, disisi lain jika mengalami jalan buntu, maka dilakukan pending item.
Bantuan TELKOM kepada SEKAR sebesar Rp. 3.700,- pe anggota SEKAR per bulan secara Nasional untuk kegiatan operasional rutin dan insidentil SEKAR yang kebutuhannya akan diajukan oleh organisasi. Padahal sesuai Draft SEKAR bantuan yang diusulkan adalah sebesar Rp.10.000,-. Jangan sampai ada kesan seolah-olah SEKAR meminta-minta ke manajemen. Hal ini tegantung niat baik manajemen untuk membesarkan SEKAR atau sebaliknya.
Disisi lain bahkan SEKAR telah bertekad untuk menjadi mitra kerja manajemen secara konstruktif, maka diharapkan agar manajemen mau mengerti hal ini, yang tentu semangatnya adalah kemitraan. Sampai berita ini diturunkan, pembahasan WORDING masih berlangsung yang diperkirakan akan selesai pada hari Jumat (24/11). Yang menarik di hari ketiga ini ialah adanya sisipan acara, yaitu dari Majelis Pertimbangn Organisasi SEKAR (MPO) berupa presentasi soal DAPENTEL yang dipaparkan oleh Herry Khusaery.***NURSIDIK***
Kegiatan Spiritual SEKAR Disela-sela PKB-III Makassar
TAHUN 2006
Kegiatan Spiritual SEKAR Disela-sela PKB-III Makassar
Jajaran Tim Perunding PKB-III dari SEKAR yang dilaksanakan di Makassar menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan spiritual. Kegiatan ini dilakukan ketika ada waktu istirahat, sehingga manakala ada sedikit peluang selalu dimanfaatkan oleh beberapa Tim Perunding untuk melakukan kegiatan positif. DPW-VII Makassar selaku Tuan Rumah PKB-III selalu memfasilitasi para Pengurus dari ALL DPW dan DPP dalam kegiatan positif ini.
Pada hari Rabu (22/11) disela-sela waktu istirahat, maka kesempatan ini tak disia-siakan oleh beberapa jajaran Tim Perunding dari SEKAR TELKOM untuk melakukan kegiatan spiritual, yakni ziarah ke makam Syech Yusuf. Syech Yusuf merupakan ulama besar Sulawesi Selatan yang dibuang ke Pretoria, Afrika Selatan karena menggelorakan perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda. Dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah. Kemudian rombongan juga melakukan sholat di Masjid Tua Katangka yang merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan yang didirikan tahun 1603.
Bukan itu saja, sebab selain melakukan kegiatan spiritual, ada satu hal yang cukup membanggakan dari anak negeri ini, yaitu mengunjungi Museum “Balla Lompoa” di Sungguminasa, Gowa yang juga merupakan situs Kesultanan Gowa. Artinya, ialah mereka ingin mendapatkan value tersendiri dari museum yang merupakan sejarah yang terus tetap dikenang oleh para generasi muda penerus Bangsa.
Pemandu Museum “Balla Lompoa” sekaligus sebagai Juru Bicara, dalam kesempatan tersebut memberikan beberapa penjelasan kepada SEKAR TELKOM tentang Silsilah Raja Gowa, mulai pendiri kerajaan Gowa sampai dengan Sultan Gowa ke-16 yang tersohor menentang kolonialisme Belanda yaitu Sultan Hasanuddin. Peninggalan benda bersejarah juga tak lepas dari bahan sajian yang disajikan oleh Pemandu kepada SEKAR TELKOM, yang membuktikan betapa gigihnya para Pahlawan terdahulu melawan penjajah. Siapa tahu semangat juang para leluhur bangsa ini terus menjadi inspirasi generasi penerus**NURSIDIK**
Jumat, 15 Oktober 2010
Perundingan “PKB FASKES” Putaran Ke-2 Di Makassar
TAHUN 2006
Perundingan “PKB FASKES” Putaran Ke-2 Di Makassar
Perjanjian Kerja Bersama Ke-3 (PKB-III) pada hari pertama, Senin (20/11) antara SEKAR Telkom dan Manajemen pada putaran kedua telah berlangsung di Singgasana Hotel Jln. Kajaolalido 16, Makassar Seperti halnya putaran pertama di Jakarta, suasana putaran kedua ini berjalan saling penuh pengertian, diskusipun berjalan secara alami, sehingga kedua belah pihak berharap putaran kedua ini selancar seperti putaran pertama.
Panji Darmawan mewakili Tim Perunding dari Manajemen mengatakan, bahwa putaran kedua ini bersifat diskusi oleh POKJA (Kelompok Kerja) terhadap beberapa “Pending Items” dalam upaya mendekatkan persepsi tanpa ada ”Ketuk Palu” atau “Decision”, sebab untuk yang satu ini akan dilakukan di Balikpapan saat Pleno nanti pada tanggal 29 Nopember 2006. Panji juga setuju kalau PKB-III ini dinamakan PKB FASKES (Fasilitas Kesehatan) seperti yang diusulkan SEKJEN SEKAR, Wisnu Adhi.
Perlu dijelaskan, bahwa sesuai IPO /penawaran saham perdana Telkom Nopember 1995 mempersyaratkan, bahwa karyawan yang direkrut setelah Nopember 1995 tidak lagi mendapatkan FASKES setelah ybs pensiun, artinya ketika pensiun, ybs dan keluarganya sudah tidak lagi mendapatkan pelayanan kesehatan dari YAKES. Kondisi ini juga dialami oleh karyawan yang diterima sebelum IPO TELKOM 1995, namun masa kerjanya sampai saat ini kurang dari 20 tahun. PKB-I mengamanatkan adanya pemberian santunan asuransi kesehatan yang sudah direaliasikan sejak tahun 2003, sementara PKB-II lebih meningkat lagi dengan azas kesetaraan bagi karyawan kategori diatas. Dalam PKB-III ini SEKAR Telkom berharap dalam azas kesetaraan ini, santunan asuransi kesehatannya lebih realistis dan sesuai dengan kebutuhan saat ini, mengingat tidak banyak Provider Asuranasi yang memberikan layanan kesehatan pasca pensiun seperti halnya Yakes Telkom.
Dikatakan Wisnu, bahwa FASKES bagi karyawan dan keluarganya yang tidak mendapat pasca pensiun selama ini tidak ter-treatment oleh Yakes, walau sudah diusulkan pada PKB-I dan PKB-II. Jadi PKB-III ini merupakan momentum untuk meng-goal-kannya, bahkan menjadi isu utama. Dijelaskan, bahwa kalau PKB-I dulu dinamakan sebagap “PKB 2 MP”, sedangkan PKB-II dinamakan “PKB BPK”, maka PKB-III ini adalah “PKB FASKES”, sehingga masing-masing memiliki “kemasan atau icon” yang gampang diingat. Wisnu berharap agar POKJA ini efektif dengan semangat memahami persoalan menyongsong perundingan berikut di Balikpapan.
Tim Perunding dari Manajemen dalam kesempatan ini menunjukkan keinginannya untuk turut memperjuangkan masalah FASKES yang saat ini memang sedang dilakukan perhitungan aktuarianya oleh Aktuaris, InsyaAllah sudah selesai pada 1 Desember 2006, papar Panji. Kita harus meyakini perhitungan Aktuaris, setelah selesai dan semua data tersedia, maka Fungsional yang akan memperjuangkan, bukan SEKAR, karena ini merupakan problem kita semua, tambahnya. Penegasan ini disambut tepuk tangan oleh Tim Perunding dari SEKAR.
Setelah Break ISHOMA Maghrib, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang masalah susunan redaksional pasal per pasal atau WORDING. Ketika memasuki area yang berkaitan dengan masalah hukum, maka sempat terjadi perdebatan cukup sengit, namun inipun tak berlangsung bertele-tele ketika ada seorang rekan yang menyela, agar menyelesaikan dulu persoalan yang ringan-ringan dulu, sehingga sesuai scenario, WORDING ini berjalan lancar dan efektif. **NURSIDIK**
Senin, 27 September 2010
TELCON ISU SOAL ESIA-FLEXI
TAHUN 2010
TELCON ISU SOAL ESIA-FLEXI
Gonjang ganjing merebaknya isu “pencaplokan” Flexi oleh Esia yang dilansir oleh beberapa Mass Media mendapat perhatian serius jajaran DTF dan para Pengurus SEKAR. Maka digelar-lah Teleconference, Senin (21/09/2010) oleh jajaran DTF dengan para Pengurus SEKAR yang intinya menghimpun masukan dari bawah, lalu akan disampaikan ke BOD sekaligus mendengar respon BOD soal gonjang-ganjing pencaplokan tersebut.
Berbagai masukan telah diinformasikan oleh peserta TELCON antara lain Perlu klarifikasi ke BoD oleh DPP perihal berita-berita yang berkembang di media massa. Klarifikasi ini penting sebelum membuat pernyataan SIKAP.
Merger Flexi dan Esia cenderung lebih menguntungkan Esia. Karena apa ? Bila dibandingkan dengan Telkomsel, kontribusi Flexi hanya sebesar <10% dari revenue Telkomsel. Dampak merger tidak akan berpengaruh besar terhadap revenue Telkom secara korporasi. Tetapi akan sangat berarti bagi sustainability Esia.
BILA DIPUTUSKAN MERGER, Telkom harus menjadi pemegang kendali (pemegang saham mayoritas), artinya perusahaan baru (Flexi-Esia) masih bernaung dibawah TelkomGroup.
Terdapat opsi untuk karyawan DFWN apakah memilih Telkom atau 'the new company'. Hasil survey sementara (dari DPP) karyawan FWN yang berniat balik ke Telkom sebanyak 60%. Rencana pertemuan lanjutan akan dilaksanakan di Jakarta pada hari Kamis, 23 September 2010.
Senin, 20 September 2010
AMPS – Angkatan Muda Penerus SEKAR
TAHUN 2006
AMPS – Angkatan Muda Penerus SEKAR
Alumni STT Telkom ini memang sangat ”care” terhadap eksistensi Serikat Karyawan TELKOM (SEKAR TELKOM). Mereka ini selalu menjadi perisai perusahaan manakala perusahaan sedang ”diserang” oleh pihak lain, Regulator termasuk kompetitor. Dwi Anggara yang Ketua DPD SEKAR TELKOM SBT, adalah salah satu alumnus, dan menyebut anak muda ini sebagai Angkatan Muda Penerus SEKAR Telkom.
Mereka selalu merapatkan barisan dengan para para Seniornya di Kepengurusan SEKAR, apakah itu di DPD, DPW atau DPP. Anggara mengatakan kepada Reporter, bahwa dalam PKB-III ini, para AMPS selain mengawal ketat seluruh usulan yang disodorkan SEKAR dalam bentuk matriks, juga ada hal khusus yang butuh pengawalan bersifat khusus pula, yaitu menyangkut FASKES, atau Fasilitas Kesehatan, sedangkan mereka juga bergandengan tangan mempererat barisan dengan seniornya memperjuangkan para pegawai yang akan mendekati masa pensiun, luar biasa !
Dalam forum perundingan PKB-III yang dilaksanakan di Dreams Land atau Taman Impian Jaya Ancol Jakarta selama 5 hari mulai tanggal 5 hingga 10 Nopember 2006 baru-baru ini, AMPS tak jarang berdiskusi internal sesama alumni sebelum melakukan negosiasi. Pemandangan diskusi para alumsni STT TELKOM ini sempat membuat para rekan yang lain kagum dan bangga memiliki generasi mada yang berdedikasi tinggi luar biasa, demi kesejahteraan karyawan dan kemajuan perusahaan.
Walau pelaksanaanya dilakukan di Dreams Land atau Taman Impian, namun hasil PKB-III ternyata bukan hanya berupa mimpi atau isapan jempol belaka, tetapi benar-benar sangat luar biasa. Apalagi tim perunding dari pihak manajemen optimis, bahwa PKB-III ini jauh lebih baik dari PKB-PKB sebelumnya, bahkan diharapkan menjadi ROLE MODEL bagi serikat karyawan lain di Indonesia ini.***NURSIDIK***
Tim Perunding Dari DPW-V Kembali Ke Surabaya
TAHUN 2006
Tim Perunding Dari DPW-V Kembali Ke Surabaya
Setelah acara perundingan PKB-III antara SEKAR TELKOM dan Manajemen usai pada hari Jumat (10/11) dengan membawa hasil yang patut disyukuri, yaitu 50 % Usulan SEKAR sudah diterima manajemen, maka Perunding dari SEKAR DPW-V JATIM langsung pulang kandang hari ini juga. Alhamdulillah.
Tim Perunding ini merupakan Pejuang, Jawara, sekaligus Relawan, sebab mereka ini benar-benar serius memperjuangkan perbaikan kesejahteraan karyawan demi kemajuan perusahaan PT. TELKOM tercinta. Reporter sempat menjepret tim DPW Jawa Timur yang masih FULL TEAM. Walau lelah, namun semangat mereka masih luar biasa, apalagi pulang dengan membawa hasil yang dinanti oleh para Anggota SEKAR.
Perundingan sangat rapi, sistematis, apalagi usulan yang disampaikan SEKAR juga sistematis, yaitu berupa Ringkasan usulan PKB-III dalam bentuk matriks yang dibagi menjadi 5 bagian, meliputi : 1.) Hak kesejahteraan karyawan yang diberikan secara rutin. 2). Hak kesejahteraan karyawan yang diberikan secara insidentil. 3.) Hak kesejahteraan karyawan untuk mendukung kegiatan operasional. 4). Usulan program untuk memperbaiki komposisi dan kualitas SDM, 5.) Lain-lain.
Yang termasuk butir 1) dalam usulan PBK-III dalam bentuk Matriks adalah : Gaji Bulanan, Insentif, Bantuan Tahun Ajaran Baru, Bantuan anak sekolah karena mutasi, Jasprod/Bonus, Premi, THR, BPFP, CUTAH, Transport Cuti dalam dan luar Jawa, Cuti Besar, Uang Pakser, Tunjangan Retensi dan Penyesuaian Gaji Dasar.
Yang termasuk dalam butir 2) adalah : Fasilitas Kesehatan, Bantuan Perumahan Pertama, Penghargaan Karyawan, Bantuan Perkawinan Pertama, Bantuan menghadiri pemakaman dan biaya mengantar jenazah, Tunjangan Hari Tua (THT), dan Bantuan Peningkatan Kesejahteraan.
Butir 3) adalah : Perjalanan Dinas DN dan LN, BPS, PRT, Uang Lembur, MPP dipercepat 3 tahun, Anggaran Pelatihan minimal 1.5 % Revenue, Pendidikan Penjenjangan, Program Magang di perusahaan World Class, Perkawinan sesama karyawan, Informasi Job Vacnt di TELKOM, Promosi secara obyektif, jujur dan transparan, Penyesuaian formulasi dana pensiun, CLTP menjalankan tugas Negara.
Butir 4) adalah : Bantuan fasilitas bagi organisasi SEKAR, Tindak sela, Tabungan Wajib Perumahan, PHK danBatalnya ketentuan Telkom, yaitu Autran/Ketentuan TELKOM yang bertentangan dengan PKB-III dianggap batal demi hukum. Semuanya sudah dibahas di Putaran-I dan Alhamdulillah lancar-lancar saja atau So Far, So Good !!!***NURSIDIK***
50 % PKB III SEKAR Accepted By Management Pada Putaran-I
TAHUN 2006
50 % PKB III SEKAR Accepted By Management Pada Putaran-I
PKB-III yang perundingannya dilakukan oleh Tim SEKAR dan Tim Manajemen putaran pertama telah berakhir pada Jumat (10/11) di Jakarta. Sebanyak 41 major items (Yang berpengaruh dominan terhadap THP karyawan : Red) usulan SEKAR telah disetujui (accepted) sebanyak 20 items atau 50%, dimana 9 item sesuai dengan PKB-2, sedangkan 11 items usulan pada PKB-3. Alhamdulillah, ……
Selama 5 hari, negosiasi terjadi naik turun, tapi tak bertele-tele masih on the track, ini baru putaran pertama, hasil yang luar biasa, kata Panji Darmawan dari Manajemen saat memulai di hari terakhir. Semoga putaran kedua yang direncanakan di Makassaar akan lebih mulus lagi. Usulan SEKAR di setujui, tetapi usulan manajemen selalu dipending items oleh SEKAR, kelakar Panji memulai diskusi di hari ke-5. Geeerrrr,…..menggema di Teluk Jakarta Convention Hall Taman Impian Jaya Ancol.
Panji mengatakan, bahwa langkah berikutnya di hari kelima adalah diskusi saja yang akan diperdalam ke putaran berikutnya. Hasil putaran pertama akan di draftkan. Minggu depan ada jeda terlebih dahulu, sehingga pada putaran kedua juga tak kalah lancarnya dengan putaran pertama. Banyak perundingan dan penyaamaan persepsi yang bermanfaat mempercepat putaran berikutnya di Makassar dan Balikpapan.
Sementara itu Faizal Syam yang juga wakil dari manajemen mengatakan, bahwa penandatanganan sendiri akan dilakukan di Jakarta. Faizal mengatakn hal ini mengutip permintaan dari Manajemen. Hasil putaran pertama memang luar biasa, dimana kita akan gajian setiap 2 (dua) minggu sekali, sebab usulan SEKAR diterima manajemen sebanyak 23,14 per tahun. Hanya saja jangan kawin lagi. Lho,…demikian antara harapan manajemen.
Masalah Perkawinanan sesama karyawan dan karyawati dan beberapa item lainnya masih pending items atau dalam status in progress. Tim Perunding mengakhiri putaran pertama dengan harapan pada putaran kedua lebih luar biasa lagi lancarnya, temasuk hasilnya. Semoga sukses, perusahaan maju, karyawan sejahtera. Acara diakhiri dengan FOTO BARENG antara SEKAR dan Manajemen***NURSIDIK***
50 % PKB III SEKAR Accepted By Management Pada Putaran-I
PKB-III yang perundingannya dilakukan oleh Tim SEKAR dan Tim Manajemen putaran pertama telah berakhir pada Jumat (10/11) di Jakarta. Sebanyak 41 major items (Yang berpengaruh dominan terhadap THP karyawan : Red) usulan SEKAR telah disetujui (accepted) sebanyak 20 items atau 50%, dimana 9 item sesuai dengan PKB-2, sedangkan 11 items usulan pada PKB-3. Alhamdulillah, ……
Selama 5 hari, negosiasi terjadi naik turun, tapi tak bertele-tele masih on the track, ini baru putaran pertama, hasil yang luar biasa, kata Panji Darmawan dari Manajemen saat memulai di hari terakhir. Semoga putaran kedua yang direncanakan di Makassaar akan lebih mulus lagi. Usulan SEKAR di setujui, tetapi usulan manajemen selalu dipending items oleh SEKAR, kelakar Panji memulai diskusi di hari ke-5. Geeerrrr,…..menggema di Teluk Jakarta Convention Hall Taman Impian Jaya Ancol.
Panji mengatakan, bahwa langkah berikutnya di hari kelima adalah diskusi saja yang akan diperdalam ke putaran berikutnya. Hasil putaran pertama akan di draftkan. Minggu depan ada jeda terlebih dahulu, sehingga pada putaran kedua juga tak kalah lancarnya dengan putaran pertama. Banyak perundingan dan penyaamaan persepsi yang bermanfaat mempercepat putaran berikutnya di Makassar dan Balikpapan.
Sementara itu Faizal Syam yang juga wakil dari manajemen mengatakan, bahwa penandatanganan sendiri akan dilakukan di Jakarta. Faizal mengatakn hal ini mengutip permintaan dari Manajemen. Hasil putaran pertama memang luar biasa, dimana kita akan gajian setiap 2 (dua) minggu sekali, sebab usulan SEKAR diterima manajemen sebanyak 23,14 per tahun. Hanya saja jangan kawin lagi. Lho,…demikian antara harapan manajemen.
Masalah Perkawinanan sesama karyawan dan karyawati dan beberapa item lainnya masih pending items atau dalam status in progress. Tim Perunding mengakhiri putaran pertama dengan harapan pada putaran kedua lebih luar biasa lagi lancarnya, temasuk hasilnya. Semoga sukses, perusahaan maju, karyawan sejahtera. Acara diakhiri dengan FOTO BARENG antara SEKAR dan Manajemen***NURSIDIK***
Full Support Dari Tuan Rumah PKB-III Di DPW-2 Jakarta
TAHUN 2006
Full Support Dari Tuan Rumah PKB-III Di DPW-2 Jakarta
Para Tim Perunding Perjanjian Kerja Bersama ke tiga atau PKB-III antara SEKAR TELKOM dan Manajemen yang kali ini dilaksanakan di Jakarta merasa “enjoy”, sebab DPW-2 selaku Tuan Rumah selalu memberikan fasilitas untuk memperlancar mobilitas Tim Perunding, termasuk fasilitas LAN untuk pengiriman informasi dan liputan LIVE selama 5 hari mulai 6-10 Nopember 2006.
Ketua DPW-2, Thomik Armawan selaku Tuan Rumah sekaligus Tim Perunding PKB-III dari SEKAR setiap hari senantiasa melakukan approach ke seluruh peserta untuk sekedar bincang-bincang ringan. Thomik sangat Welcome terhadap para Tim Perunding, bahkan tak jarang forum PKB-III dikunjungi oleh Ketua DPD DATEL Jakarta Utara yang dijabat oleh seorang Ibu, yaitu Ibu Atmawati.
PKB-III sebagaimana PKB sebelumnya adalah menyangkut hajat hidup orang banyak, jadi kami selaku tuan rumah selalu memberikan yang terbaik kepada seluruh peserta, baik sebagai Tim Perunding, maupun sebagai Peninjau, kata Thomik. Kelancaran perundingan dalam setiap bahasan topik akan sangat menentukan keberhasilan PKB, untuk kami akan memberikan FULLY SUPPORT kepada seluruh peserta, tegas Thomik kepada Reporter.
DPW-2 khususnya dan ALL DPW pada umumnya memang sudah bertekad untuk mensukseskan PKB-III ini. Para anggota SEKAR seluruh Indonesia juga berharap banyak terhadap keberhasilan PKB ini, maka kami sebagai Tuan Rumah harus memberikan service yang terbaik kepada seluruh peserta. Semoga doa kita semua dikabulkan Allah SWT, yaitu Sukses PKB-III, Perusahaan maju, karyawan sejahtera. ***NURSIDIK***
Biaya Tahun Ajaran Baru (BTAB) Dibahas PKB-III

TAHUN 2006
Biaya Tahun Ajaran Baru (BTAB) Dibahas PKB-III
Perundingan di hari ke empat antara SEKAR dan Manajemen TELKOM Corporate, Kamis (9/11) di Hotel Mercure Taman Impian Jaya Ancol Jakarta adalah melanjutkan diskusi yang masih dibahas oleh tim kecil hari sebelumnya yang hari ini sudah banyak menghasilkan beberapa capaian dengan membahas beberapa item yang cukup penting, stratejik dan significant..
Di hari ke-4 ini, ruangan rapat dipindahkan dari NIRWANA MEETING ROOM ke TELUK JAKARTA MEETING ROOM yang lebih nyaman, dapat menikmati pemandangan teluk Jakarta, sebab ruangannya memang menghadap ke pantai. Di ruangan yang baru ini dibahas beberapa hal yang utama (yang menyenangkan kita semua) antara lain : THP, Insentif, Cutah, THR, BTAB, Jasprod, Premi, Faskes dan lain-lain.
Soal Insentif sendiri setelah menghasilkan kesepakatan dari tim kecil, kemudian dibawa kemeja perundingan yang langsung di tok tok wouw (diketok palu oleh Pemimpin Rapat) bisa dikompromi oleh tim manajemen. Untuk posisi Jasprod sendiri diusulkan agar tidak dihubungkan dengan prestasi Unconsolidated.
Sebaiknya jangan takut bicara kesejahteraan karyawan. Hal ini dikemukakan SEKAR dalam forum diskusi di hari keempat PKB-III. Misalnya bicara soal premi, jasprod, bonus dan lain-lain. Dan kenyataanya pihak manajemen memang sangat ingin meningkatkan kesejahteraan pegawai, bahkan sangat mendukung sepenuhnya. Manajemen sangat concern terhadap hal yang satu ini. Hal tersebut ditegaskan oleh Faizal Syam selaku Ketua Tim Perunding dari Manajemen.***NURSIDIK***
Saat Senggang Bagi Tim Sukses PKB-III Di Jakarta (BAG-I)

TAHUN 2006
Saat Senggang Bagi Tim Sukses PKB-III Di Jakarta (BAG-I)
Banyak cara untuk melepas lelah dan kejenuhan, apalagi dengan jadwal Perundingan PKB-III SEKAR dan Manajemen PT. TELKOM yang sangat padat selama seminggu (6-10 Nopember 2006) yang diawali sejak pagi hari hingga disambung malam hari dalam sesi diskusi internal membahas masalah terkini.
Karena fasilitas Hotel Mercure di Taman Impian Jaya Ancol sangat komplit, maka cara yang paling gampang melepas lelah dan jenuh antara lain dengan berenang, fitness, jalan pagi sesudah subuh disepanjang pantai Ancol. Kemudian bias juga mendengarkan musik LIVE dengan lagu-lagu Indonesia dan Barat, Pop, Jazz dan Bossanova.
Namun banyak rekan-rekan yang mengambil cara paling gampang, yaitu jalan pagi menyusuri pantai menikmati hawa pagi yang bersih tanpa polusi. Pemandangan pantai Ancol juga bagus untuk dinikmat. Disisi lain ada juga rekan-rekan Tim Perunding yang cukup puas dengan berenang, malam hari sekalipun.
Team Perunding PKB-III yang berasal dari seluruh daerah tentu akan tetap menjaga stamina, sehingga akan dapat melakukan perundingan dalam kondisi sehat jasmani dan rokhani. Team Perunding akan menjalankan tugasnya sesuai amanah dari seluruh anggota SEKAR TELKOM.***NURSIDIK***
Langganan:
Postingan (Atom)